KAJIAN NOVEL DIMENSI SOSIAL KEAGAMAAN DALAM FIKSI INDONESIA MODERN
A. JUDUL
DIMENSI
SOSIAL KEAGAMAAN DALAM FIKSI INDONESIA MODERN
B. IDENTITAS
BUKU
1.
Judul buku : Dimensi Sosial Keagamaan dalam Fiksi
Indonesia Modern
2.
Pengarang buku : Dr. Ali Imron Al-Ma’ruf, M. Hum
3.
Judul novel : Keluarga Permana
4.
Pengarang novel : Ramadhan K. H
5.
Penerbit :
SmartMedia, Solo
6.
Tahun :
2010
7.
Tebal buku :
XI +237hlm.: 15,5 cm
8.
Halaman buku : 227
9.
Harga
buku : Rp. 40.000,00
C. GARIS
BESAR ISI BUKU
Dekade
1970-an merupakan masa perkembangan baru dalam kesusasteraan Indonesia yang membawa
perubahan penting di tengah kehidupan masyarakat. Perkembangan itu tidak
terlepas dari situasi Indonesia pasca 1965 terutama memasuki dekade 1970-an,
sastrawan Indonesia seolah-olah memperoleh kebebasan yang lebih luas. Hal itu
terbukti dengan banyaknya novel yang terbit dan bersedar serta menjadi konsumsi
masyarakat modern Indonesia yang menggemari sastra terutama sejak dekade
1970-an.
Karya
sastra merupakan salah satu alternatife dalam rangka pembangunan kepribadian
dan budaya masyarakat yang berkaitan erat dengan latar belakang struktural
sebuah masyarakat. Dalam kehidupan masyarakat global yang serba ketidakpastian
dan masa depan yang tidak teramalkan, kita harus dapat menghadapinya dengan
bijak, tanpa kehilangan arah atau bahkan menjadi terasing, tanpa kehilangan
rasa sopan santun kita, identitas kepribadian kita, rasionalitas kita, dan
sumber-sumber inspirasi kita yang selama ini kita pandang luhur bahkan
adiluhung. Mengkaji karya sastra akan membantu kita menangkap makna yang
terkandung dalam pengalaman pengarang yang disampaikan melalui para tokoh
imajinatifnya.
Novel
merupakan salah satu genre sastra di samping cerita pendek, puisi, dan drama. Novel
adalah cerita atau rekaan, disebut juga teks naratif, atau wacana naratif.
Unsur-unsur pembangun novel itu secara konvensional dibagi atas unsur intrinsic
dan unsure ekstrinsik. Unsure intrinsic adalah unsure yang secara langsung
turut membangun karya sastra itu. Sedangkan unsure ekstrinsik adalah
unsure-unsur yang berda di luar karya sastra itu, secara tidak langsung
mempengaruhi bangunan karya sastra itu.
Secara
garis besar, novel KP karya Ramadhan K.H. merupakan salah satu novel yang
fenomenal sekaligus kontroversional. Fenomenal karena KP mengupas
masalah-masalah yang khas Indonesia sejak zaman kemerdekaan hingga kini yakni
hubungan antarumat beragama. Sedangkan kontroversional karena novel ini lahir
pada saat masyarakat Indonesia yang pluralistik dan multiagama sedang
diramaikan oleh berbagai masalah keagamaan dan kerukunan antarumat beragama.
Masalah
pertama yang menjadi sorotan tajam dalam Keluarga Permana adalah perkawinan
campuran antara gadis Islam dengan pemuda Khatolik. Nilai-nilai yang menarik
dalam peristiwa perkawinan campuran adalah bahwa terlepas dari pemaksaan hak
kebebasan beragama oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan, ternyata
Keluarga Permana begitu cermat menyajikan persoalan lain diseputar perpindahan
agama itu. Selain itu juga terdapat nilaik menarik lainnya, yaitu upacara
pemakaman jenazah yang dilaksanakan secara Khatolik yang berlangsung ditengah
keluarga dan masyarakat muslim.
Keluarga
Permana menyajikan nuansa keagamaan yang jarang ditemukan dalam karya lain.
Selain itu Keluarga Permana juga memberikan pandangan betapa manusia pada
umumnya sering bertindak bodoh, tidak berpikir panjang, hanya terdorong emosi
demi tujuan keduniaan. Ada juga nilai yang tak terkalah pentingnya dalam
Keluarga Permana yaitu krisis ketakwaan sebagai sumber terjadinya masalah
sosial dalam kehidupan masyarakat.nilai lain dalam Keluarga Permana yang
menarik adalah pentingnya agama dalam kehidupan manusia. Berbagai peristiwa
yang terjadi dalam Keluarga Permana yang dialami oleh para tokoh berkaitan
dengan peran agama sebagai pegangan manusia dalam menempuh kehidupannya.
Dimensi
sosial keagamaan dalam Keluarga Permana, meliputi:
1. Perpindahan
keagamaan sebagai sumber konflik sosial(perkawinan campuran Islam-Khatolik,
upacara pembaptisan, dan upacara pemakaman jenazah yang meresahkan).
2. Pengembangan
agama pada umat beragama.
3. Krisis
ketakwaan sebagai sumber masalah sosial (korupsi dan mempercaya diri,
penyalahgunaan jabatan, dan dekadensi moral remaja dan kawin paksa versi
modern.
4. Zina
dan aborsi: fenomena pelanggaran etik sosial dan agama.
5. Peran
agama dalam rumah tangga dan perilaku anak.
6. Iman
sebagai pengendali diri.
7. Agama
sebagai pedoman meraih kebahagiaan.
D. KAJIAN
STRUKTUR NOVEL KELUARGA PERMANA
1. Struktur
naratif
Novel Keluarga Permana
ini dianalisis dalam struktur naratif, penokohan, dan latar. Analisis struktur
naratif berusaha mengemukakan kembali teks KP dengan menampilkan urutan sekuen.
Analisis stuktur naratif ini dibagi atas dua bagian, urutan tekstual dan
kronologis. Uratan tekstual dilakukan mengingat bahwa dalam karya sastra,
informasi yang sama akan berubah artinya, jika urutan dalam ujaran berubah.
Sedangkan urutan kronologis digunakan untuk memisahkjan antara waktu masa kini
dengan masa lalu. Urutan kronologis diperoleh setelah ditentukan sekuen.
Serangkaian sekuen itu menunjukan urutan wacana mendukung penentuan urutan
kronologis yang sling berkaitan erat. Di bawah ini adalah urutan wacana dalam
novel Keluarga Permana, yaitu:
a. Meninggalnya
Ida.
b. Perpisahan
upacara pemakaman jenazah Ida.
c. Permana
dan Saleha mengenang kehidupan Ida ketika remaja.
d. Kehidupan
remaja Ida yang menderita akibat kekejaman permana.
e. Permana
sering bertindak kejam kepada istri dan anaknya.
f. Permana
kecewa dan menyasali nasibnya yang sial.
g. Sumarto
menumpang (indekos) di rumah permana.
h. Sumarto
menjalin cinta dengan Ida.
i.
Ida mulai jatuh cinta kepada Sumarto.
j.
Sumarto dan Ida mulai berani berhubungan
cukup jauh.
k. Perman
curiga atas hubungan itim Sumarto dengan Ida.
l.
Permana mengusir Sumarto (dengan halus)
dari rumahnya.
m. Ida
hamil hasil hubunganya dengan Sumarto.
n. Permana
dan Saleha sedih mengetahui Ida hamil pranikah.
o. Perman
dan saleha sepakat untuk mengugurkan kandungan Ida.
p. Kandungan
ida gugur akibat minum cairan dari dukun.
q. Ida
mengalami komplikasi sehingga kandungannya dioperasi.
r.
Sumarto menyesal Ida hamil akibat
perbuatanya.
s. Pastur
Murdiono menyarankan Sumarto segera mengawini Ida.
t.
Sumarto mencari tahu keadaan Ida.
u. Sumarto
mengancam perbuatan Permana lewat surat kaleng.
v. Ida
sangat lemah fisik dan psikis setelah dioperasi.
w. Permana
merasa lega setelah Ida keluar dari rumah sakit.
x. Sumarto
menemui Ida dan berniat untuk mengawininya.
y. Ida
ingin segera kawin dengan Sumarto.
z. Permana
dengan berat hati menyetujui perkawinan mereka.
aa. Ida
dibaptis menjadi katolik sebagai syarat perkawinanya.
bb. Perkawianan
Ida-Sumarto (katolik) menimbulkan konflik.
cc. Mang
Ibrahim marah dan kecewa melihat perkawinan itu.
dd. Ida
dan Sumarto meninggalkan keluarga Permana ke jatiwangi.
ee. Upaacara
pemakaman jenazah Ida secara katolik.
ff. Saifudin
berusaha menenangkan Saleha mengenai nasib Ida.
gg. Permana
setress berat dan akhirnya terganggu juwanya, gila.
2. Penokohan
Penokohan atau
kehadiran tokoh dalam suatu cerita dapat diliahat dari cara analisis, cara
dramatic dan kombinasi keduanya. Dalam pembagiannya tokoh dapat dibedakan atas
tokoh utama dan tokoh pendamping. Kehadiran tokoh-tokoh dalam KP dilakulkan
dengan cara kombinsi analitik dan dramatik. Berikut paparan analissi
tokoh-tokoh dalam KP.
a. Farida
(Ida)
Farida merupakan tokoh
utama, yang mempunyai sifat yang mulia, baik patuh terhadap orangtua, pendiam,
cekatan dalam berkerja, penyanyang, lugu, miskin wawasan dan pengalaman
bergaul. Tokoh ini merupakan tokoh yang sentral, dimana paling banyak mengalami
konflik yang terjadi dalam Keluarga Permana. Farida ini mengalami kejadian yang
suram. Dia mengalami hamil diluar nikah, dengan terpaksa dia harus menggugurkan
kandungannya, dan harus berpindah agama karena dinikahi oleh tokoh Sumarto yang
berbeda agama dengan Farida.
b. Sumarto
Sumarto mempunyai sifat
yang ramah, sopan, berani, sembrono, kaya pengalaman, romantis. Kesembronoannya
Sumarto melakukan kesalahan yang menimbulkan konflik dalam Keluarga Permana
dimana Dia menghamili Farida. Tokoh ini merupakan tokoh sentral yang antagonis.
c. Permana
Tokoh KP yang juga
berperan langsung jalannya cerita KP adalah Permana. Deskripsi psikologis tokoh
ini cukup menonjol. Latar belakang psikologis ini dimunculkan pada perubahan
sikap dan sifat saat Permana mangalami pemecatan dari perkerjaannya karena
tuduhan soal korupsi. Pada awalnya Permana mempunyai sifat yang baik, tidak
kejam, sabar, suka bergembira, dan pandai mengibur istri serta anaknya. Sifat
yang baik itu berubah setelah Permana menerima kenyataan bahwa Ia dipecat dari
pekerjaannya. Hal ini membuat Permana frustasi dan terpukul terhadap keadaan.
Sifat peman menjadi pemarah, kasar, kejam, tidak lagi jadi penyabar, dan
pencemburu.
d. Saleha
Saleha merupakan istri
dari Permana, kehadirannya dalam KP sangat penting guna mendampingi Permana.
Sifat Saleha di KP didiskripsikan baik, istri yang setia, taat, sabar, tabah
menghadapi cobaan, dan patuh kepada suaminya.
e. Mang
Ibrahim
Tokoh ini adalah tokoh
yang kontroversi dalam Keluarga Permana. Tokoh ini mempunyai peran penting
dalam mengangkat tema cerita lewat kepribadiannya yang teguh, keras, dan
pandangan agamanya yang radikal. Dia dilkukiskan sebagai tokoh tua yang taat
beragama, berpandangan Islam yang radikal, bergaris keras, dan tegas dalam
prinsip agama.
f. Saifudin
Kehadiran tokoh ini
sebagai tokoh pendamping Mang Ibrahim. Sebagai pendamping Mang Ibrahim dalam
hal-hal mengungkap dimensi sosial keagamaan, maka kemudian tokoh ini agaknya
untuk memberikan kontras dengan pengetahuan keagamaanya yang cukup tua. Justru
dengan usianya yang masih muda itu Saifudin digunakan untuk menunujukan, bahwa
dalam hal ilmu pengetahuan termasuk ilmu dan wawasan agama, usian tidak
merupakan patokan.
g. Pastur
Murdiono
Tokoh ini juga berperan penting
dalam mengembangka cerita Keluarga Permana. Jika Mang Ibrahim dan Saifudin
merupakan dua tokoh pemuka agama Islam, maka Murdiono merupakan pemuka agama
Katolik. Kehadiran tokoh ini merupakan perimbang sekaligus antagonis bagi Mang
Ibrahim dan Saifudin. Murdiono dilukiskan memiliki sifat ramah, lemah lembut,
dan pandai meneduhkan hati dan pikiran orang lain.
Di
samping tokoh-tokoh tersebut, beberapa tokoh lain yang tidak dibicarakan
seperti Nenek Tati, Nenek Lengkong, Surono, Sutarmi, Komariah, dan dr. Sudomo. Melalui
analisis tokoh di atas dapat dikemukakan ada dua pihak tokoh yang berfungsi
dalam Keluarga Permana. Pihak pertama adalah Farida dan Permana sebagai tokoh
protagonis, sedangkan pihak kedua adalah Sumarto sebagai tokoh antagonis.
Ketiga tokoh itu merupakan tokoh sentral dalam Keluarga Permana. Adapun tokoh
lain yakni Saleha, Mang Ibrahim, Saifudin, dan Pastur Murdiono merupakan tokoh
pendamping atau tokoh bawahan.
3. Latar
Menurut
Moody dalam Al-Ma’ruf (2010: 107) menyatakan bahwa latar sebagai tempat,
sejarah, sosial, kadang-kadang pengalaman politik atau latar belakang cerita
itu terjadi. Sedangkan menurut Parkamin dan Bari dalam Al-Ma’ruf (2010: 107)
juga menyatakan latar adalah penempatan mengenai waktu dan tempat termasuk
lingkunganya. Latar dideskripsikan dalam karya sastra menjadi tiga yakni latar
tempat, waktu, dan sosial (Abrams dalam Al-Ma’ruf, 2010: 108). Selain latar
dapat dibagi menjadi tiga aspek, yaitu:
a. Aspek
unsur ruang
Pada umumnya sebuah
novel menyiratkan atau menyuratkan suatu tempat. Latar tempat dalam Keluarga
Permana dilukiskan cukup jelas. Hal ini untuk mendukung gagasan-gagasan
mengenai dimensi sosial keagamaan berkaitan dengan penokohan berserta
lingkungan sosial budayanya. Secara keseluruhan cerita terjadi di wilayah Jawa
Barat, tepatnya di Bandung dan daerah sekitarnya termasuk Jatiwangi dan
Ciateul. Kuburan Pandu juga merupakan latar tempat yang di tempat penguburan
tokoh Farida. Selain itu Yogyakarta digunakan sebagai ilustrasi mengenai latar
belakang masa kecil tokoh tertentu (Sumarto).
b. Aspek
unsur waktu
Dalam novel Keluarga
Permana, waktu tidak dilukiskan secara eksplisit mengenai kapan terjadinya
peristiwa yang dialami tokoh-tokohnya.
c. Aspek
unsur sosial
Persoalan pokok
Keluarga Permana adalah dimensi sosial keagamaan khususnya benturan sosial
dalam kehidupan antarumat beragama. Oleh karena itu sangat mudah dimengerti
jika latar sosial Keluarga Permana lebih terasa menonjol. Mengamati latar
sosial dalam Keluarga Permana, maka semakin tampaklah bahwa pengarangnya adalah
sastrawan sekaligus pengamat sosial yang jeli memandang fenomena sosial yang
berkembang dalam masyarakat Indonesia yang majemuk.
E. GAGASAN
DALAM NOVEL KELUARGA PERMANA DENGAN TINJAUAN SEMIOTIK
Berdasarkan
analisis makna dengan pendekatan semiotic dan interteks dapat disimpulkan bahwa
novel Keluarga Permana mengumgkapkan dimensi sosial keagamaan sebagai gagasan
utama dalam alur cerita yang kompleks namun tetap lancar. Makna dimensi sosial
keagamaan dalam Keluarga Perman adalah perpindahan agama dapat menimbulkan
berbagai konflik sosial. Perpindahan agama seseorang dari satu agama ke agama
lain dapat memicu konflik sosial dalam lingkungan masyarakat yang multiagama
karena hal itu dapat menyinggung perasaan keagamaan keagamaan kelompok dan
lingkungannya. Konflik yang terjadi antar umat ini juga dapat memecahkan
kesatuan dan persatuan bangsa yang akhir-akhir ini sedang mengalami krisis
nasionalisme sebagai salah satu akibat adanya krisis politik, ekonomi, dan
krisis kewibawaan pemerintah.
Dalam
peristiwa perpindahan agama itu, terlihat adanya usaha pengembangan agama pada
umat yang sudah beragama yang tidak dibenarkan. Pengembangan agama pada umat
yang sudah beragama demikian bertentangan dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku di samping bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri. Apalagi
berhubungan dengan pernikahan lintas agama, dimana dalam pernikahan merupakan
pemaksaan karena gadisnya dalam keadaan hamil akibat hubungan seks diluar
pernikahan dengan pemuda yang lain agama.
Agama
sebagai pedoman hidup bagi manusia dalam meraih kebahagiaan. Hanya dengan
takwa, yang merupakan inti ajaran agama, yang hakikatnya berupa imam dan amal
shalih, manusia akan dapat mencapai kebahagiaan lahir dan batin. Dengan takwa
kepada Tuhan dalam makan hakiki pula manusia akan dapat menghadapi berbagai
rintangan hidup dan godaan hawa nafsu serta dapat bersikap sabar dan tabah
dalam menghadapi berbagai ujian hidup dengan dzikir dan tawakkal, mengingat dan
berserah diri kepada-Nya.
Selanjutnya
yang lenih berperan sebagai latar adalah krisis ketakwaan sebagai sumber
terjadinya masalah sosial. Adanya krisis ketakwaan di kalangan masyarakat
merupakan penyebab timbulnya berbagai masalah sosial dalam kehidupan
masyarakat. Implikasi dari gagasan ini antara lain bahwa timbulnya tindak
korupsi dan memperkaya diri, penyalahgunaan jabatan, disharmonis rumah tangga,
dan dekadensi moral serta ‘kawin paksa’, lebih disebabkan oleh adanya krisis
ketakwaan pada masyarakat, meskipun faktor sosial ekonomi juga turut mendukung
terjadinya hal itu.
F. KEUNGGULAN
DAN KELEMAHAN
1. Keunggulan
Buku ini sangat bagus,
karena buku ini mengkaji sebuah novel yang berlatar belakang tentang masalah
sosial. Masalah sosial yang sering terjadi didalam kehidupan masyarakat kita
pada umumnya. Dalam novel ini memunculkan masalah sosial tentang perkawinan
lintas agama serta proses penguburan yang berbeda aliran dan tata caranya. Permasalah
ini sering terjadi dalam kehidupan masyarakat, sehingga pengarang Keluarga
Permana ini menceritakan permasalahan sosial itu guna menjadi pelajaran untuk
masyarakat pada umumnya. Diceritakan dalam novel Keluarga Permana ini bahwa
perpindahan agama itu dilarang, baik peraturan perundang-undangan dan juga
dalam aturan agama itu sendiri. Selain tentang perpindahan agama, Keluarga
Permana ini juga memunculkan koflik tentang proses pemakaman yang berbeda
aliran, antara agama Islam dan Katolik. Dalam cerita Keluarga Permana ini dapat
dijadikan sebuah pelajaran hidup masyarakat.
2. Kelemahan
Kekurangan buku ini
terletak pada penyajiannya. Buku ini disajikan dengan menggunakan pemilihan
kalimat yang sulit untuk dipahami. Pembaca dituntut untuk membaca
berulang-ulang, meski sudah dibaca berkali-kali terkadang masih sulit untuk
memahami buku ini. Pembaca juga mengalami kebingungan dalam memahami buku ini,
karena disusun begitu rumit dalam penyusunan buku ini.
G. KRITIK
DAN SARAN
1. Kritik
Dalam penyusunan buku
ini masih menggunakan pemilihan kalimat yang sulit dipahami oleh pembaca.
Pembaca disini dituntut untuk membaca berkali-kali dan membaca dengan cermat
untuk memahami isi dari buku ini. Meski
sudah berkali- kali membaca terkadang masih sulit untuk memahami isi
buku ini. Sehingga agar pembaca lebih mudah memahami buku ini sebaiknya
menggunakan pilihan kalimat yang mudah dipahami.
2. Saran
Buku ini sudah berisi materi yang
bgus dan dapat dijadikan pelajaran untuk kehidupan masyarakat. Namun, dalam
penyajiannya masih perlu dikaji kembali. Hal yang paling mendasar untuk dikaji
adalah penggunakan kalimat yang maih sulit dipahami oleh pembaca. Seharusnya
menggunakan kalimat yang mudah dipahami oleh setiap pembaca baik yang sudah
dewasa maupun masih anak-anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar