Kamis, 17 Desember 2015
Rabu, 16 Desember 2015
PUISI : RATU BUKIT MAWAR
RATU BUKIT MAWAR
Karya
: Roma A
Aku berdiri di bukit
penuh mawar
Bukit yang berwarna
alami karya lukisan Sang Ilahi
Di atas sana ku
berjumpa dengannya
Dengan tatap matanya
bersinar terang
Senyum indah memekar
sejukkan jiwa
Berpakaian segumpal
mawar ya disusun bak anyaman
Dia menatapku yang
terdiam membisu
Membisu karena
pesonanya yang terus memancar
Pesona yang yang
bersinar seterang sinar mentari
Aku merunduk tuk
sejenak
Berpikir apakah ku
pantas mendekatinya
Dia bagaikan ratu mawar
yang dihormati
Mungkin iya, dia memang
istimewa
Sampai seluruh mawar
tunduk akan perintahnya
Ah….
Aku ini siapa
Aku cuma manusia jalang
yang sedang gundah gulana
Manusia yang meratapi
sebuah penyesalan yang amat besar
Aku mungkin tak pantas
mendekatinya
Tetapi,
Ketika aku mau berbalik
arah
Dia memanggilku dengan
suara lembut
Selembut sutra busana
raja
Aku gemetar
mendengarnya
Terasa kaku, sampai ku
tak sanggup tuk bergerak
Aku lemas tak berdaya
Tak ada daya tuk
membalas sapanya
Aku masih terdiam tak
bergerak
Ku dengar derak langkah
yang kian mendekat
Jantung ku ikut
berdetak dengan cepat
Kaki semakin berat tuk
melangkah
Sampai aku kaget bukan
kepalang
Tangannya yang halus
menarik ku untuk kembali ke atas
Aku di seret dengan
halus naik ke atas bukit
Aku tak bisa menolak apalagi
melawannya
Aku telah lemas tak
berdaya
Sampai di atas ku masih
kaku tak berdaya
Dia mencoba tuk membuat
ku tenang
Dia terus menatapku
dengan senyum manisnya
Tatapan tajamnya yang
bersinar
Seakan memberi ku aura
yang terus membuatku nyaman
Ya benar semakin nyaman
ku bersamanya
Tidak lagi terasa kaku
dalam diriku
Entah aura apa yang
diberikan
Aku begitu bahagia
sekarang
Rasa yang sakit kian
hilang
Rasa itu berubah
menjadi indah
Secerca memberi harapan
yang baru akan terbuka
Dia masih menatap ku
Dengan senyumnya yang
tak pernah hilang dari hadapan ku
Ku balas dengan
senyumku yang sumbang
Kubalas tatapnya dengan
tatap ku yang layuku
Dia semakin tersenyum
Entah apa karna
jeleknya senyumku
Entah apa karna
buruknya tatapku
Aku dan Dia semakin
dekat dan bercerita
Aku dan Dia membagi
cerita tawa dan duka
Aku dan Dia semakin
erat
Ya, erat seperti dua
sejoli yang telah lama bertemu
Dalam hatiku mulai
berpikir apa ku pantas memilikinya
Atau aku pantas dekat
dengannya
Mungkin bisa
Ya bisa
Sangat bisa
Jika aku menemukan dia
dari dulu
Ya benar kenapa tidak
dari dulu ketemukan bukit mawar ini
Bukit yang indah dengan
ratu yang sekarang di depanku
Menyesal
Ya tentu ada rasa itu
Namun itu semua sudah
tersurat dalam skenario kehidupan
Ya skenario yang telah tersurat
Aku tidak bisa
melawannya
Semua telah tergariskan
Kini ku tunggu takdirku
dan Sang Ratu Mawar disini berdua
Takdir yang kuharap
bahagia ku bersamanya disini
Karena ku tenang
bersamanya dan ku ingin bersamanya selamanya
PUISI : DINGIN HATI
DINGIN HATI
Karya : Roma A
Banyak cerita
berhembusan
Menemani setiap
langkah-langkah sayu
Aku terbengkalai di
rerumputan
Yang kuning tua akan
layu
Harumnya nafas itu
masih tercium
Kilauannya masih
terlihat jelas
Tak terbataskan oleh
jarak waktu
Meski jauh dan tak
didepan mata
Bukan di dunia khayal
Bukan di dunia dongeng
Ini sungguh nyata
terasa
Rasa yang menghangatkan
dinginnya hati
PUISI : BAHAGIA
BAHAGIA
Karya
: Roma A
Berawal dari canda
Berubah menjadi tawa
Berawal dari tatapan
Berubah menjadi senyuman
Indah kurasa
Sejuk kurasa
Datangmu selalu ku nanti
Hadirmu selalu ku rindu
Berharap bersamamu tiap hari
Lalui hari bersamamu
Bahagia
Bahagia
Bahagia
Sungguh kurasa bahagia
Lalui hari bersama dengan pelukan cinta
Ingin ku bisikan
Kamu yang ku puja
Kamu yang ku damba
Kamu yang ku cinta
Kamu yang ku inginkan
Langganan:
Postingan (Atom)