Rabu, 16 Desember 2015

GAMBAR 1


PUISI : RATU BUKIT MAWAR

RATU BUKIT MAWAR
Karya : Roma A

Aku berdiri di bukit penuh mawar
Bukit yang berwarna alami karya lukisan Sang Ilahi
Di atas sana ku berjumpa dengannya
Dengan tatap matanya bersinar terang
Senyum indah memekar sejukkan jiwa
Berpakaian segumpal mawar ya disusun bak anyaman

Dia menatapku yang terdiam membisu
Membisu karena pesonanya yang terus memancar
Pesona yang yang bersinar seterang sinar mentari

Aku merunduk tuk sejenak
Berpikir apakah ku pantas mendekatinya
Dia bagaikan ratu mawar yang dihormati
Mungkin iya, dia memang istimewa
Sampai seluruh mawar tunduk akan perintahnya

Ah….
Aku ini siapa
Aku cuma manusia jalang yang sedang gundah gulana
Manusia yang meratapi sebuah penyesalan yang amat besar
Aku mungkin tak pantas mendekatinya

Tetapi,
Ketika aku mau berbalik arah
Dia memanggilku dengan suara lembut
Selembut sutra busana raja
Aku gemetar mendengarnya
Terasa kaku, sampai ku tak sanggup tuk bergerak
Aku lemas tak berdaya
Tak ada daya tuk membalas sapanya

Aku masih terdiam tak bergerak
Ku dengar derak langkah yang kian mendekat
Jantung ku ikut berdetak dengan cepat
Kaki semakin berat tuk melangkah
Sampai aku kaget bukan kepalang
Tangannya yang halus menarik ku untuk kembali ke atas
Aku di seret dengan halus naik ke atas bukit
Aku tak bisa menolak apalagi melawannya
Aku telah lemas tak berdaya

Sampai di atas ku masih kaku tak berdaya
Dia mencoba tuk membuat ku tenang
Dia terus menatapku dengan senyum manisnya
Tatapan tajamnya yang bersinar
Seakan memberi ku aura yang terus membuatku nyaman
Ya benar semakin nyaman ku bersamanya
Tidak lagi terasa kaku dalam diriku
Entah aura apa yang diberikan
Aku begitu bahagia sekarang
Rasa yang sakit kian hilang
Rasa itu berubah menjadi indah
Secerca memberi harapan yang baru akan terbuka

Dia masih menatap ku
Dengan senyumnya yang tak pernah hilang dari hadapan ku
Ku balas dengan senyumku yang sumbang
Kubalas tatapnya dengan tatap ku yang layuku
Dia semakin tersenyum
Entah apa karna jeleknya senyumku
Entah apa karna buruknya tatapku

Aku dan Dia semakin dekat dan bercerita
Aku dan Dia membagi cerita tawa dan duka
Aku dan Dia semakin erat
Ya, erat seperti dua sejoli yang telah lama bertemu

Dalam hatiku mulai berpikir apa ku pantas memilikinya
Atau aku pantas dekat dengannya
Mungkin bisa
Ya bisa
Sangat bisa
Jika aku menemukan dia dari dulu
Ya benar kenapa tidak dari dulu ketemukan bukit mawar ini
Bukit yang indah dengan ratu yang sekarang di depanku

Menyesal
Ya tentu ada rasa itu
Namun itu semua sudah tersurat dalam skenario kehidupan
Ya skenario yang telah tersurat
Aku tidak bisa melawannya
Semua telah tergariskan
Kini ku tunggu takdirku dan Sang Ratu Mawar disini berdua
Takdir yang kuharap bahagia ku bersamanya disini
Karena ku tenang bersamanya dan ku ingin bersamanya selamanya

PUISI : DINGIN HATI



DINGIN HATI
Karya : Roma A

Banyak cerita berhembusan
Menemani setiap langkah-langkah sayu
Aku terbengkalai di rerumputan
Yang kuning tua akan layu

Harumnya nafas itu masih tercium
Kilauannya masih terlihat jelas
Tak terbataskan oleh jarak waktu
Meski jauh dan tak didepan mata

Bukan di dunia khayal
Bukan di dunia dongeng
Ini sungguh nyata terasa
Rasa yang menghangatkan dinginnya hati

PUISI : BAHAGIA



BAHAGIA
Karya : Roma A

Berawal dari canda
Berubah menjadi tawa
Berawal dari tatapan
Berubah menjadi senyuman

Indah kurasa
Sejuk kurasa

Datangmu selalu ku nanti
Hadirmu selalu ku rindu
Berharap bersamamu tiap hari
Lalui hari bersamamu

Bahagia
Bahagia
Bahagia
Sungguh kurasa bahagia
Lalui hari bersama dengan pelukan cinta

Ingin ku bisikan
Kamu yang ku puja
Kamu yang ku damba
Kamu yang ku cinta
Kamu yang ku inginkan